HARI INI DIA BAWAHAN, BESOK ATASAN…….

Pernahkah anda mendengar seseorang mengatakan:” Boleh jadi, bawahan
anda akan menjadi atasan anda pada suatu saat kelak….”. Tidak
banyak atasan yang menyadari kenyataan ini, sekaligus bersedia
menerima konsekuensi yang ditimbulkannya. Dan, lebih sedikit lagi
atasan yang bahkan dengan ‘sengaja’ melakukan ‘sesuatu’ untuk
membantu bawahannya menapak lebih tinggi dari dirinya sendiri.
Meskipun pada kenyataannya, ada banyak bukti bahwa para bawahan
cemerlang melejit karirnya hingga menjadi atasan bagi para mantan
atasannya. Apakah anda menemukan fenomena serupa ini dilingkungan
kerja anda?
Bagi sebagian teman dia lebih suka pindah ke bagian lain daripada
harus menjadi bawahan bagi orang
yang pernah menjadi bawahannya. Secara mental, dia tidak siap
menghadapi situasi terbalik seperti itu. Sulit menerimanya karena ada
ganjalan psikologis didalam dirinya. Dia dikuasai rasa gengsi. Merasa
diri lebih senior. Lebih superior. Dan rupanya, tidak sedikit orang
yang bersikap seperti itu.

Konteks diskusi kita saat ini
sedang membahas aspek :”Boleh jadi, bawahan kita akan menjadi atasan
kita pada suatu saat kelak….” Let’s accept the fact, and let’s
deal with it.

Bagi kita, hal ini memiliki dua implikasi. Pertama; seandainya kita
adalah sang atasan itu. Bagaimana kita menghadapi kemungkinan seperti
itu? Kemungkinan ketika bawahan kita menjadi atasan bagi kita.
Mustahil? Tidak.

Maka, penting bagi kita untuk memiliki paradigma positif. Jika ada
bawahan yang memiliki kualitas dan kinerja yang lebih baik dari kita;
bukankah itu baik bagi kita maupun organisasi itu sendiri? Memang,
idealnya kita naik posisi terus menerus, sehingga setinggi apapun
bawahan kita naik; kita masih berada diatasnya. Namun, bukankah
didunia nyata tidak selalu terjadi hal sedemikian?

Mari cermati kalimat ini;”Guru yang baik bukanlah mereka yang mau
mengajarkan semua hal yang diketahuinya. Melainkan, mereka yang
bersedia membantu muridnya membuka tabir-tabir pengetahuan yang belum
pernah terpecahkan. ” Apa yang kita ketahui sangatlah terbatas.
Sehingga, mengajarkan semua yang kita tahu tidak akan bisa menjadikan
generasi masa depan lebih baik dari kita. Jika hal ini berlaku dalam
hubungan antara guru dan murid, dapatkah juga terjadi dalam hubungan
antara atasan dan bawahan?

Seorang guru sejati akan bahagia ketika mendapati muridnya lebih
hebat dari dirinya sendiri. Demikian pula seorang atasan yang hebat.
Dia bahkan membuka jalan, supaya bawahannya bisa menapak lebih
tinggi. Tanpa ada rasa iri. Tiada pula kecemburuan. Yang ada,
hanyalah kebanggaan didalam dirinya. Meskipun – biasanya – seseorang
yang telah menapak tinggi lupa bahwa; ada peran atasannya dalam
pencapaian yang diraihnya. Jadi, tidak mengherankan jika mereka kerap
berkata;”I did it myself.” Tapi, seorang atasan sejati; tidak
terlampau merisaukannya.

Implikasi kedua; seandainya kita sang bawahan itu. Bukti bahwa
seorang bawahan bisa menapak jenjang karir yang lebih tinggi dari
atasan, cukup untuk meyakinkan diri kita bahwa masa depan kita bisa
jauh lebih baik dari yang dapat kita bayangkan.

Sering kita dengar orang yang mengeluh bahwa karirnya tidak
berkembang karena atasannya tidak cukup memberi bimbingan. Bisa iya.
Bisa juga tidak.

Disisi lain, kita juga sering terjebak pada anggapan
bahwa; ‘kemampuan teknis adalah segala-galanya’ . Padahal, kemampuan
teknis hanyalah satu dari sekian banyak faktor penting. Jadi, orang-
orang yang hanya hebat secara teknis, hanya layak untuk menjadi
pelaksana. Bukan pemimpin. Itulah sebabnya, mengapa orang-orang yang
hebat secara teknis; sering tersingkir. Repotnya, mereka merespon
situasi ini dengan menyimpulkan bahwa manajemen telah pilih kasih.
Mereka merasa; proses assesment tidak fair.

Kita, harus keluar dari pola pikir semacam itu. Sebab, jika terjebak
didalamnya; kita tidak akan pernah mengetahui apa yang harus
diperbaiki. Kita mengira bahwa semua kualifikasi itu sudah kita
miliki. Padahal, ada orang lain yang lebih baik dari kita. Seperti
halnya anda yang tidak ingin dipimpin oleh orang yang sekedar jago
dalam hal-hal teknis; maka tentu orang lainpun tidak ingin anda yang
hanya menguasai aspek teknis itu tampil menjadi pemimpin. Sebaliknya,
ketika kemampuan teknis anda dipadukan dengan sikap positif,
kemampuan membangun hubungan yang produktif baik dengan atasan,
bawahan maupun rekan sekerja, serta loyalitas yang tinggi; maka
mungkin, memang anda layak mendapatkan kesempatan untuk dipersaingkan
dengan orang-orang hebat lainnya.

wassalam

Iklan

EVALUASI DERAJAD KESEHATAN MASYARAKAT

UPT PUSKESMAS SIDOMULYO TAHUN 2009

Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, kemampuan hidup sehat bagi setiap setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal. Derajat kesehatan yang merupakan pencerminan kesehatan perorangan, kelompok maupun masyarakat digambarkan dengan umur harapan hidup, mortalitas, morbiditas dan status gizi masyarakat. Sehat dalam pengertian secara luas, yakni bukan saja bebas dari penyakit dan kecacatan tetapi juga tercapainya keadaan kesejahteraan baik fisik, sosial dan mental.

  1. Umur Harapan Hidup

Umur harapan hidup (UHH) digunakan untuk menilai derajat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat baik kabupaten/kota, provinsi maupun Negara. UHH juga menjadi salah satu indikator dalam mengukur Indeks Prestasi Manusia. Adanya perbaikan pada pelayanan kesehatan melalui keberhasilan pembangunan pada sektor kesehatan dapat diindikasikan dengan adanya peningkatan umur harapan hidup saat lahir. Badan Pusat statistik mengestimasikan UHH di Indonesia tahun 2007 sebesar 69,09. Provinsi dengan estimasi UHH tertinggi pada tahun 2007 adalah DIY sebesar 74,56 yang diikuti oleh DKI Jakarta sebesar 74,42 dan Bali sebesar 73,29. Sedangkan Nusa Tenggara Barat menjadi provinsi dengan UHH terendah sebesar 63,25.

Di UPT Puskesmas Sidomulyo Umur Harapan Hidup mengacu pada UHH Kabupaten Lampung Selatan, berdasarkan sumber BPS Provinsi lampung Tahun  2003 65,2 tahun 2004 66,2, tahun pada tahun 2005 67,4, tahun 2006 67,5 dan tahun 2007 68,0.(data tahun 2008 dan 2009 belum tersedia)

Angka harapan hidup waktu lahir tahun 2003-2007 UPT Puskesmas Sidomulyo Kabupaten Lampung Selatan dapat dilihat pada diagram berikut :

Salah satu indkator derajat kesehatan masyarakat adalah angka umur harapan hidup, sehingga tingginya umur harapan hidup menunjukkan tingkat taraf hidup suatu negara. Berdasarkan Kepmenkes Nomor 1202/MENKES/SK/VIII/2003 tentang IIS 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat, target 2010 untuk Angka Harapan Hidup Waktu Lahir adalah 67,9 tahun.

Berdasarkan hasil susenas 2002 umur harapan hidup di Kabupaten Lampung Selatan adalah 65 tahun untuk laki-laki dan rata-rata 67 tahun untuk wanita. Berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 2005, tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004 – 2009, telah ditetapkan bahwa target umur harapan hidup diharapkan meningkat dari 62,2 tahun menjadi 70,6 tahun.

B.          Mortalitas

  1. Kasus Kematian Ibu

Kematian ibu (Maternal) merupakan indikator dari derajat kematian /mortalitas disuatu wilayah. Di wilayah kerja UPT Puskesmas Sidomulyo Angka Kematian Ibu dari tahun ke tahun mengalami kemajuan, diawali pada tahun 2006 dilaporkan adanya 3 kasus kematian ibu hamil yaitu di Desa Kota Dalam, Sidorejo dan Sidomulyo dengan penyebab 2 kasus karena Eklampsia dan 1 kasus karena sesak nafas. Dan pada tahun 2007 dilaporkan adanya 2 kasus kematian ibu yang disebabkan karena perdarahan post partum di desa Suak, dan komplikasi  penyakit jantung terjadi di desa Seloretno. Lalu pada tahun 2008 hanya ada 1 kasus kematian ibu yang dikarenakan karena perdarahan post partum yaitu di Desa Campang Tiga. Kemudian pada tahun 2009 tidak terdapat kasus kematian ibu hamil.

  1. 1. Kematian bayi

Infant Mortality Rate atau Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator yang lazim digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat, baik pada tatanan kabupaten, provinsi maupun nasional. Selain itu, program-program kesehatan di Indonesia banyak yang menitikberatkan pada upaya penurunan AKB. Angka Kematian Bayi merujuk kepada jumlah bayi yang meninggal pada fase antara kelahiran hingga bayi belum mencapai umur 1 tahun per 1000 kelahiran hidup.

Angka kematian bayi Kabupaten Lampung Selatan berdasarkan hasil  Susenas Propinsi Lampung Tahun 2002, untuk laki-laki sebesar 46/1000 kelahiran hidup, dan untuk perempuan sebesar 45/ 1000 kelahiran hidup, total kematian bayi sebesar 40/1.000 kelahiran hidup. Untuk target Indikator IIS 2010 adalah 40 per 1.000 kematian bayi. Kasus kematian bayi di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2004 sebesar 236 bayi . Kemudian pada tahun 2005  menjadi 238 kasus, tahun 2006 turun menjadi 227 kasus, kemudian kembali meningkat menjadi 248 kasus di tahun 2007, pada tahun 2008 menurun menjadi 113 kasus

Kasus Kematian Bayi di Wilayah UPT Puskesmas Sidomulyo selama tiga tahun terakhir adalah sebagai berikut : Pada tahun 2006 terjadi 17 kasus kematian bayi, pada tahun 2007 menurun menjadi 11 kasus dan pada tahun 2008 menurun lagi menjadi 9 kasus, sedangkan pada tahun 2009 terjadi peningkatan kasus menjadi 14 kasus yaitu di Desa Bandar Dalam 1 kasus, Desa Campang Tiga 3 kasus, Desa Talang Baru 1 kasus, Desa Suka Banjar 2 kasus, Desa Suak 1 kasus, Desa Seloretno 2 kasus , Desa Sidodadi 1 kasus, Desa Sidorejo 2 kasus dan di Desa sidomulyo 1 kasus. Berdasarkan data diatas jumlah kematian bayi pada tahun 2009 terjadi peningkatan kasus, hal ini dapat dilihat pada diagram batang berikut ini:

  1. 1. Kasus  Kesakitan / Morbiditas

Angka kesakitan (Morbiditas) mempunyai korelasi yang kuat terhadap tinggi – rendahnya derajat kesehatan masyarakat. Berikut kondisi morbiditas diwilayah UPT Puskesmas Sidomulyo selama tahun 2009 :

a.         Pola Penyakit

Tingkat kesakitan disuatu wilayah juga mencerminkan situasi derajat kesehatan masyarakat yang ada di dalamnya. Bahkan tingkat morbiditas penyakit menular tertentu yang terkait dengan komitmen internasional senantiasa menjadi sorotan dalam membandingkan kondisi kesehatan antar negara. Pada bab ini disajikan gambaran morbiditas penyakit-penyakit menular dan tidak menular yang dapat menjelaskan keadaan derajat kesehatan masyarakat di Wilayah UPT Puskesmas Sidomulyo.

Kondisi kesehatan masyarakat di wilayah UPT Puskesmas Sidomulyo tahun 2009 dapat dicermati dari pola penyakit penderita yang berkunjung ke sarana kesehatan yaitu puskesmas maupun sarana kesehatan swasta. Berikut menyajikan pola 10 penyakit terbanyak yang berkunjung ke puskesmas dan sarana kesehatan yang ada.Berdasarkan data SP2TP yaitu laporan Data Kesakitan (LB1), sepanjang tahun 2009 tercatat 10 (sepuluh) besar penyakit yang mendominasi penduduk di wilayah kerja UPT Puskesmas Sidomulyo dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

TABEL 2

10 (SEPULUH) BESAR PENYAKIT

DI WILAYAH UPT PUSKESMAS SIDOMULYO TAHUN 2009

NO JENIS PENYAKIT KODE JUMLAH %
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

ISPA

Penyakit lain pd saluran nafas bagian atas

Gastritis

Penyakit pulpa jaringan perpikal

Penyakit pd sistem otot dan jar. Pengikat

Penyakit Hypertensi

Diare

Conjungtivitis virus

Asma

Penyakit kulit infeksi

1302

1303

2201

1501

21

12

0102

1005

1403

2001

3949

1605

1404

1356

1168

1140

391

384

350

342

32,7

13,3

11,6

11,2

9,67

9,4

3,2

3,2

2,9

2,8

JUMLAH 12089 100

Sumber : Hasil Laporan SP2TP LB1 Puskesmas Sidomulyo Tahun 2009

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa penyakit infeksi akut lain pernapasan atas (32,7%) masih merupakan penyakit terbanyak yang ditemukan pada pasien yang berkunjung ke puskesmas dan sarana kesehatan yang ada. Walaupun demikian penyakit tidak menular juga mulai masuk dalam 10 besar penyakit seperti gastritis (11,6%) di peringkat tiga besar, dan hipertensi sebanyak 9,4%.


SOSIALISASI PROGRAM

SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM)

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah satu Program Nasional di bidang sanitasi yang bersifat lintas sektoral. Program ini telah dicanangkan pada bulan Agustus 2008 oleh Menteri Kesehatan RI. STBM merupakan pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan.

Pada bulan September 2008 STBM dikukuhkan sebagai Strategi Nasional melalui Kepmenkes No 852/Menkes/SK/IX/2008. Strategi ini menjadi acuan bagi petugas kesehatan dan instansi yang terkait dalam penyusunan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi terkait dengan sanitasi total berbasis masyarakat.

Dalam upaya mencapai target MDG`s dengan sanitasi dasar bagi masyarakat, maka UPT Puskesmas Sidomulyo beserta Tim Seksi Kesling Dinkes Kab.Lampung Selatan  melakukan sosialiasi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) pada tanggal 26 Juli 2010  Tingkat Puskesmas dan Tanggal 27 Juli 2010 tingkat Desa yang dilaksanakan di Desa Sidorejo sekaligus demontrasi cara pembuatan leher angsa, berikut foto-foto kegiatan.

Dalam sambutannya kepala UPT Puskesmas Sidomulyo (Hari Surya Wijaya,SKM) menyebutkan bahwa Strategi Nasional STBM memiliki indikator outcome yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku. Sedangkan indikator output-nya adalah sebagai berikut :

1. Tidak BAB sembarangan (Stop BABS)

2. Mencuci tangan pakai sabun (CTPS)

3. Mengelola air minum dan makanan yang aman

4. Mengelola sampah dengan benar

5. Mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman

Disebutkan juga dalam sambutannya Sanitasi saat ini sudah merupakan urusan bersama. Tidak lagi terbatas hanya sebagai wewenang dari satu dinas tertentu tetapi sudah meluas ke berbagai penggiat yang ada baik di pemerintahan maupun non pemerintahan. STBM sebagai program nasional di bidang sanitasi memerlukan koordinasi lintas sektor untuk membuat program ini berjalan baik.

Dulu sanitasi dianggap hanya pembangunan fisik, padahal sanitasi adalah pembangunan mental dan paradigma. Jadi perilaku masyarakat harus diubah dulu sebelum sarana fisik dibangun oleh masyarakat. Orang harus memutus rantai penularan penyakit dulu sebelum dibuat fasilitas yang lebih bagus. Untuk itulah pemicuan harus dilakukan, dengan tujuan untuk mengajak masyarakat mengubah kebiasaan/perilaku buruk seputar sanitasi.

Strategi yang dilakukan adalah dengan prinsip keteladanan. Pendekatan ini dimulai dari para tokoh masyarakat, karena budaya meniru tokoh panutan di masyarakat cukup tinggi. Para tokoh masyarakat melihat dirinya sendiri, dan menilai sendiri apakah mereka sudah merubah perilaku atau belum. Sesudah para tokoh masyarakat dan kadernya berubah perilakunya (stop buang air besar sembarangan/SBABS), baru mereka masuk ke masyarakat untuk memicu.

Idealnya STBM dilaksanakan dengan menggunakan Azas Tridaya. Azas Tridaya yang dimaksud adalah:

– Pemberdayaan manusia (pelatihan);

– Pemberdayaan usaha (sampah dan limbah);

– Pemberdayaan lingkungan (CLTS dan STBM).

Adapun prinsip-prinsip pelaksanaan kegiatan yang digunakan untuk menuju sanitasi total adalah sebagai berikut :

  1. Sanitasi total adalah memicu perubahan perilaku.
  2. Sanitasi total adalah pemahaman pendekatan secara bertahap menuju perubahan perilaku.
  3. Suatu kegiatan yang dikendalikan berdasarkan kebutuhan masyarakat, bukan top-down.
  4. Masyarakat yang memimpin untuk melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan pencapaian sanitasi total.
  5. Sanitasi Total adalah aksi kolektif/solidaritas masyarakat atau gotong royong.
  6. Sanitasi Total adalah pilihan local (pilihan masyarakat setempat),bukan dengan mendeskripsikan desain standar.
  7. Insentif dapat diberikan setelah terjadi perubahan perilaku masyarakat akan memicu aksi kolektif.
  8. Tolok ukur keberhasilan dan pemantauan dampak program adalah perubahan perilaku, bukan pada kemajuan konstruksi.
  9. Peran pemerintah propinsi dan kabupaten menciptakan demand masyarakat untuk perubahan perilaku hygienis dan sanitasi yang sehat, mengembangkan kapasitas sektor swasta dalam penyediaan produk dan layanan sanitasi, menetapkan target local untuk mencapai MDG, serta memantau kemajuan dan dampak pada masyarakat setempat.
  10. Peran pemerintah pusat memformulasikan strategi operasional dan petunjuk pelaksanaan yang mendukung pengembanganan kapasitas daerah, dan untuk memantau kemajuan pencapaian target nasional untuk mencapai target MDGs.

TUFOKSI DAN URAIAN TUGAS JABATAN

NAMA                          : HARI SURYA WIJAYA,SKM

NIP                                 : 19740220 199402 1 001

PANGKAT/GOL     : PENATA / III.C

JABATAN                  : KA.UPT PUSKESMAS SIDOMULYO

TUPOKSI, KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB

URAIAN TUGAS

TUGAS TAMBAHAN

TUFOKSI

Memimpin,mengawasi dan mengkoordinir kegiatan Puskesmas yang dapat dilakukan dalam jabatan structural dan atau jabatan fungsional

TANGGUNG JAWAB

  • Menetapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi baik dalam lingkungan Puskesmas maupun dengan satuan organisasi diluar Puskesmas sesuai tugas masing-masing
  • Mengikuti dan mematuhi petunjuk serta bimtek pelaksanaan yang ditetapkan Ka.Dinkes Kab. Sesuai peraturan Per-UU yang berlaku
  • Memimpin, mengkoordinasikan semua unsure dalam lingkungan Puskesmas
  • Memberikan bimbingan serta petunjuk bagi pelaksanaan tugas masing-masing staf Puskesmas
  1. Memberikan pelayanan kesehatan di Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Puskesmas Keliling,
  2. Pembinaan Posyandu dan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat,
  3. Melakukan koordinasi lintas program Puskesmas,
  4. Mengarahkan, membagi tugas, mengendalikan, mengevaluasi pelaksaan program Puskesmas,
  5. Merencanakan; mengarahkan dan mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat dalamn bidang kesehatan.,
  6. Membuat POA kegiatan-kegiatan yang ada di Puskesmas,
  7. Mengadakan kerjasama lintas program dan lintas sektoral,
  8. Membuat Job Discription dan mensosialisasikannya kepada semua staf agar semua staf dapat mengetahui dengan jelas dan pasti mengenai tugasnya rnasing-masing sehingga segala kegiatan dapat berjalan dengan baik dan lancar.
  9. Memonitor dan. mengevaluasi pelaksanaan program-program Puskesmas yang sedang atau yang telah dilaksanakan sehingga segala kegiatan tersebut dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan tidak terjadi penyimpangan dalam pelaksanaannya,
  10. Membuat rencana kegiatan dan mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan,
  11. Merencanakan program tahunan Puskesmas dengan mengacu kepada pelaksanaan dan hasil evaluasi program tahun yang lalu,
  12. Melaksanakan koordinasi lintas program dengan bagian-bagian yang terkait dalam melaksanakan program-program Puskesmas sehingga dapat saling mendukung antara satu dengan yang lain,
  13. Mendistribusikan tugas kepada bawahan dalam pelaksanaan program-program Puskesmas dengan memberikan perintah baik secara tertulis maupun secara lisan dan memberikan bimbingan kepada, bawahan dalam pelaksanaan tugas guna mendukung kelancaran pelaksanaan program-program tersebut,
  14. Mengoptimalkan peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan dengan cara melalui penyuluhan-penyuluhan baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga masyarakat semakin menyadari arti pentingnya kesehatan yang kemudian dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat,
  15. Melaksanakan penilaian kinerja staf,
  16. Monitoring terhadap pelaksanaan kegiatan dan evaluasinya,
  17. Memberikan petunjuk pelaksanaan tugas kepada bawahan baik secara lisan maupun tertulis,
  18. Memberikan penilaian kepada bawahan melalui DP3 untuk mengetahui prestasi dan dedikasi bawahan,
  19. Menyampaikan saran dan pertimbangan kepada atasan secara lisan maupun tertulis sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam pengambilan keputusan maupun kebijakan yang akan dilaksanakan,
  20. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan atasan.

Ka.UPT Pukesmas Sidomulyo

HARI SURYA WIJAYA,SKM

NIP. 19740220 199402 1 001

A. Geografi

Kondisi wilayah kerja UPT Puskesmas Sidomulyo sebagian besar areal pertanian dan perkebunan, hanya sebagian kecil areal pesisir ± 3 km dari jalan lintas Sumatera. Semua akses untuk menempuh wilayah kerja UPT Puskesmas Sidomulyo melalui jalan darat, hanya untuk Desa Bandar Dalam cukup sulit dijangkau karena keadaan geografis nya berupa perbukitan serta batuan terjal.

Adapun luas wilayah kerja UPT Puskesmas Sidomulyo  ± 153,960 km2 yang  meliputi 15 Desa pada tahun 2009. Daerah yang terluas adalah Desa Suak dengan luas wilayah 20.000 km² atau sekitar 13,1% dari luas total wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo, sedangkan Desa Seloretno merupakan daerah yang memiliki wilayah yang paling kecil yaitu seluas 1.800 km² atau sekitar 1,2% dari luas total wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo.

Tabel  .Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Di Wilayah UPT Puskesmas Sidomulyo Tahun 2009

No

Desa

Penduduk

(Jiwa)

Luas Wilayah

(km²)

Kepadatan

(Jiwa/km²)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

Bandar Dalam

Campang Tiga

Talang Baru

Suka Banjar

Kota Dalam

Budi Daya

Siring Jaha

Suak

Sukamaju

Sukamarga

Seloretno

Sidodadi

Sidowaluyo

Sidorejo

Sidomulyo

4252

3458

2149

5327

2664

2757

1682

4252

1776

1402

2943

9392

6822

7429

5001

10.050

19.940

12.970

14.980

8.750

6.700

12.000

20.000

2.000

14.440

1.800

6.400

10.560

8.400

4.950

0,42

0,17

0,17

0,36

0,30

0,41

0,14

0,21

0,89

0,10

1,64

1,47

0,65

0,88

1,01

Sumber : Data Kecamatan Sidomulyo Tahun 2009

Wilayah administrative UPT Puskesmas Sidomulyo Kec.Sidomuyo Kabupaten Lampung Selatan mempunyai batas-batas sebagai berikut :

Sebelah Utara       : Berbatasan dengan wilayah Kecamatan Titiwangi Dan Kec. Katibung

Sebelah Selatan    : Berbatasan dengan Kecamatan Kalianda

Sebelah Barat       : Berbatasan dengan Kecamatan Way Panji

Sebelah Timur     : Berbatasan dengan Kecamatan Katibung

B. Demografi

Jumlah Penduduk diwilayah UPT Puskesmas Sidomulyo tahun 2009 adalah sebesar 61.306 jiwa. Penyebaran penduduk diwilayah Puskesmas Sidomulyo belum benar-benar merata. Wilayah terpadat di Desa Seloretno dengan tingkat kepadatan sekitar 1.64 per km². Sementara itu jumlah penduduk tertinggi dan terendah pada tahun 2009 , dimana jumlah penduduk tertinggi terdapat di Desa Sidodadi dengan 9.392 jiwa atau sekitar 15,3% dari total jumlah penduduk, dan jumlah penduduk terendah di Desa Suka marga yaitu 1.402 jiwa atau sekitar 2,3% dari total jumlah penduduk.

Perkembangan penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari perkembangan ratio jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan. Ratio jenis kelamin penduduk di wilayah UPT Puskesmas Sidomulyo pada tahun 2009 dapat dilihat dari tabel 2, dengan seks ratio antara penduduk perempuan dan laki-laki pada tahun 2009 adalah sebesar 31.958 : 29.348. Hal ini menunjukkan bahwa laju pertumbuhan penduduk perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

C.        Topografi

Wilayah kerja UPT Puskesmas Sidomulyo merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 400 m diatas permukaan laut, dengan keadaan tanah sebagian besar berpasir yang dijadikan daerah perladangan untuk menanam palawija dan persawahan yang tergantung curah hujan. Pada umumnya seluruh wilayah kerja UPT Puskesmas Sidomulyo dapat dijangkau oleh kendaraan roda 2 dan 4. Puskesmas Sidomulyo terletak di desa Sidorejo, Jarak antara desa dengan Puskesmas yang terdekat adalah 1 km dan yang terjauh (Desa Suak + 25-30 km). Jalan menuju ke Ibukota Propinsi dan Ibukota Kabupaten seluruhnya berupa jalan aspal, kecuali sebagian desa-desa yang berada cukup jauh dari Puskesmas, masih berupa jalan batu dan tanah.

Jarak antara UPT Puskesmas Sidomulyo ke Ibukota Kabupaten + 20 Km sedangkan ke Ibukota Propinsi + 50 Km.

C. Sosial Ekonomi

Untuk mengetahui potensi ekonomi suatu wilayah dapat dilihat dari aspek sumber daya alam, sumber daya manusia, teknologi, infra struktur, kelembagaan dan keragaman (kinerja) perekonomian daerah. Kinerja perekonomian daerah antara lain dapat dilihat pada struktur perekonomian.

Keadaan geografis di wilayah kerja UPT Puskesmas Sidomulyo sebagian besar adalah areal pertanian, maka seperti tahun-tahun sebelumnya sektor pertanian masih merupakan sektor yang memberikan andil terbesar dalam struktur ekonomi wilayah kecamatan Sidomulyo yaitu sebesar 57 %.

Diagram

Jumlah Penduduk menurut Mata pencaharian

Di Wilayah UPT Puskesmas Sidomulyo Tahun 2009




Analisa Program Kesehatan Keluarga

Pelayanan Antenatal care (ANC)

Indikator keberhasilan pelayanan ANC dapat dipantau melalui    pelayanan Akses kunjungan ibu hamil baru (K1) dan pelayanan ulang bumil sesuai standar minimal 4 kali (K4). Cakupan K1 Dan K4 di Puskesmas Sidomulyo, seperti terlihat pada grafik dibawah ini :

Grafik Cakupan K1 dan K4 Puskesmas Sidomulyo

Tahun 2005 – 2007

Sumber : Laporan Program Kesga Tahun 2005-2007

Dari gambar diatas, tampak bahwa cakupan pelayanan kunjungan baru ibu hamil (K1) tahun 2005 sebesar 98,4%, tahun 2006 sebesar 99,9% dan pada tahun 2007 menurun menjadi 92%. Sedangkan untuk cakupan K4 tahun 2005 sebesar 94,5%, di tahun 2006 meningkat menjadi 100%,  dan pada tahun 2007 menurun menjadi 89%.

Disini jelas bahwa cakupan baik K1 maupun K4 mengalami angka yanng berfluktuatif, namun bila dibandingkan dengan target SPM pencapaian K1 dan K4 tahun 2005 dan 2006 telah mencapai target sedangkan untuk tahun 2007 masih dibawah target.

Pertolongan Persalinan

Hasil cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan tahun 2005 mencapai 833 (67,6 %), dengan kisaran 24,2% (Bandar Dalam) hingga 90,4% (Sidomulyo). Di tahun 2006 sebesar 967 (76,6%),  dan ditahun 2007 sebesar 874 (67,4%). Sedangkan persalinan yang dilakukan dukun terlatih 29,4% pada tahun 2005,  sebesar 23% pada tahun 2006 dan 17,9% di tahun 2007.

Hasil cakupan pertolongan persalinan di Puskesmas Sidomulyo tahun 2005 – 2007 dapat dilihat pada grafik berikut ini :

Grafik Presentase Cakupan Pertolongan Persalinan

Puskesmas Sidomulyo Tahun 2005 – 2007

Sumber : Laporan Program Kesga Tahun 2005-2007

Dari grafik diatas , tampak bahwa cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Sidomulyo berfluktuasi dari tahun ke tahun, jika dibandingkan dengan target SPM (86% pada tahun 2007), maka pertolongan persalinan oleh nakes belum mencapai target program. Sedangkan untuk persalinan oleh dukun terlatih dari tahun ke tahun tampak mengalami penurunan.

Kunjungan Neonatal

Hasil cakupan pemeriksaan neonatal di Puskesmas Sidomulyo tahun 2005 – 2007 dapat dilihat pada grafik di bawah ini :

Grafik Cakupan Kunjungan Neonatal (KN1 dan KN2)

Puskesmas Sidomulyo Tahun 2005 – 2007

Sumber : Laporan Program Kesga Tahun 2005-2007

Dari grafik diatas, tampak bahwa cakupan kunjungan neonatal baik KN1 maupun KN2 dari tahun 2005 s/d 2007 jika dibandingkan dengan target SPM sudah mencapai target.

Deteksi Ibu Hamil faktor resiko tinggi

Pada periode tahun 2005 – 2007 jumlah ibu hamil factor resiko tinggi di wilayah Puskesmas Sidomulyo yang berhasil terjaring 23 atau sekitar 1,2% (2005), 46 atau 3,4% (2006), dan pada tahun 2007 menurun menjadi 36 atau 2,7%.

Visi:

”TERWUJUDNYA PELAYANAN KESEHATAN BERMUTU

YANG MERATA DAN TERJANGKAU MENUJU

SIDOMULYO SEHAT 2014”

MISI

Dalam rangka mewujudkan visi tersebut diatas, maka UPT Puskesmas Sidomulyo, menetapkan misi sebagai berikut :

  1. Meningkatkan Sistem Manajemen Pelayanan Kesehatan
  2. Memantapkan standar pelayanan kesehatan
  3. Mendorong dan meningkatkan kemandirian masyarakat di bidang kesehatan
  4. Meningkatkan sumber daya manusia kesehatan yang profesional